Strategi Analis Menyeleksi Kartu Kredit

Hahahaha...orang ini gak tahu kalo gue yaitu analis kartu kredit. Masa si Agus panggil gue "sayang"?
Pada ketika analis menghubungi kita lewat telepon seraya melakukan rating data aplikasi kartu kredit, ketika itu juga bahu-membahu mereka sudah melaksanakan seleksi dengan sebuah seni administrasi yang bahkan tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Kalau Anda cermati niscaya tertangkap tangan bahwa analis memakai strategi. Analis yaitu orang yang paling pandai dan banyak logika di bidangnya. Mereka sudah dibekali dengan training dan job description yang terang untuk mencari dan memilah-milah mana calon nasabah yang sepakat atau tidak oke. Hanya calon nasabah yang sepakat yang bakalan diproses dan disetujui permohonan kartu kreditnya. 

Kalau mau diibaratkan antara nelayan dan penjual ikan di pasar, marketing kartu kredit mirip nelayan sedangkan analis mirip penjual atau pedagang ikan. Nelayan dituntut untuk menjaring dan menangkap ikan sebanyak-banyaknya mulai dari ikan teri, udang, kepiting, cumi-cumi, kerang atau bahkan bila perlu ikan hiu hingga ikan paus. Kalau hasil tangkapan sedikit sudah niscaya penghasilannya sedikit. Kurang lebih mirip itulah pekerjaan sales kartu kredit. Makin banyak aplikasi yang didapatkan makin besar peluang penghasilan sehingga terkadang aplikasi model apa saja akan dimasukkan untuk diproses. Jika dimasukkan 100 aplikasi dan andaikan lolos 20% sudah lumayan, apalagi kalau 100% lolos. Jika sebuah aplikasi yang disetujui dihargai dengan upah Rp 150.000 maka untuk 100 aplikasi dalam sebulan, si sales sudah mendapatkan penghasilan kurang lebih Rp 15.000.000. Wow! Belum termasuk honor pokok loh kalau memang masih mendapatkan honor pokok.

Sementara itu analis yaitu kebalikannya. Ibarat penjual atau pedagang ikan, tentu saja hanya ikan-ikan anggun saja yang akan dipilih oleh si penjual. Meski nelayan bisa menangkap 1 ton ikan segar dengan banyak sekali macam ukuran, pedagang ikan yang bisa memilih mana ikan yang bakalan jadi duit atau tidak, mana ikan yang sekali pajang pribadi disamber pembeli mirip ikan pari, tongkol, tenggiri, baronang, dorang, bandeng, dsb..atau mana yang bakalan jadi ikan asin. Makara laba nelayan sangat ditentukan juga oleh pedagang ikan. Dengan kata lain, penghasilan seorang sales kartu kredit sangat ditentukan juga oleh analis kartu kredit. Maka itu seorang marketing kartu kredit sejati niscaya akan melaksanakan preliminary analysis untuk memuluskan aplikasi mereka.

Strategi Analis Menyeleksi Aplikasi Kartu Kredit

Pengalaman menghadapi banyak pemohon kartu kredit, tuntutan profesi, asam garam dikerjain para syarat pengajuannya meski memang semakin sulit juga, namun lebih kepada kepintaran analis itu menyeleksi aplikasi.

Hanya dengan membaca sebuah aplikasi yang sudah diisi dan ditandatangai serta melihat dokumen-dokumen apa saja yang diikutsertakan, seorang analis bisa pribadi mencoret atau menindaklanjutinya. Cukup membacanya saja analis sudah tahu. Aplikasi sampah di mana dokumen tidak lengkap dan data yang diisi tidak jelas, akan pribadi dimasukkan tong sampah dalam arti tidak akan diproses sama sekali. Makanya kita sering menunggu ditelepon analis tetapi tidak kunjung ditelepon-telepon juga. Ini bukan alasannya aplikasi kita hilang tetapi bisa alasannya dianggap aplikasi sampah. 

"Buang-buang waktu dan pulsa saja," mungkin kurang lebih mirip itu di otak analis.

Sementara aplikasi yang cukup lengkap dan didukung oleh dokumen yang memadai maka akan diproses dengan sebelumnya menginput data tersebut ke dalam database komputer. Jika gagal prosesnya alias ditolak maka data si pemohon akan tersimpan di komputer. Dalam periodik tertentu akan dihapus dan biasanya 6 bulan sekali. Inilah alasannya mengapa kita sering mendengar kalau sebuah permohonan kartu kredit ditolak maka gres bisa mengajukannya kembali sesudah 6 bulan. Sebenarnya sih tidak mesti 6 bulan tetapi patokan pada apakah data kita masih ada di sistem komputer atau tidak. Jika masih ada meski sudah lewat 6 bulan tetap saja tidak akan diproses.

Analis bisa menjebak kita. Kadang mereka menghubungi rumah kita di waktu malam sekitar jam 9 malam. Apakah Anda pernah mengalaminya? Hal ini untuk memastikan bahwa alamat rumah yang kita isi tersebut benar-benar ada penghuninya dan bukan dipakai hanya untuk mengajukan kartu kredit. Bukankah ketika ini banyak orang menyewa rumah untuk menjebol kartu kredit? Kadang bisa juga analis di pagi-pagi sekali sekitar jam 6-7 pagi menghubungi kita ke rumah. Luar biasa! Mengapa harus pagi-pagi sekali? Hanya untuk memastikan bahwa si nasabah benar-benar tinggal di sana jadi sebelum berangkat ke kantor ada di rumah. Analis hanya ingin memastikan dan berbicara dengan si pemohon kartu kredit.

Secara logika sehat, jam kerja kantoran termasuk orang bank yaitu jam 8.30 - 16.00. Lalu mengapa ada analis yang menghubungi kita di atas jam 8 malam bahkan di pagi-pagi buta antara jam 6-7 pagi? Apakah mereka menginap di bank atau di kantor daerah mereka bekerja atau bagaimana? Ini tentu ada seni administrasi yang hanya orang bank saja yang tahu. Mereka menempuh cara-cara mirip ini berdasarkan pengalaman mereka dalam memproses kartu kredit. Dan tidak semua bank melaksanakan hal ini alasannya tiap-tiap bank mempunyai pengalaman, kebijakan dan strateginya masing-masing. Semakin andal sebuah bank, semakin banyak strateginya.

Selain soal waktu menelepon, kadang analis bisa akal-akalan menelepon nyasar ngalor ngidul ke nomor telepon kantor dan rumah. Apalagi kalau pas yang pegang kiprah yaitu analis cewek. Tujuannya apa? Untuk menilai apakah kantor tersebut beneran atau kantor fiktif, kantor temporer alias sementara, dsb. Kalau itu rumah untuk memastikan apakah itu rumah kost-kostan, rumah petak kontrakan atau beneran rumah daerah tinggal pribadi. Jika perusahaan Anda katakanlah PT Keras Tegang Sekali yang bergerak di bidang pengadaan obat-obat kesehatan laki-laki, nah si analis cewek ini bisa akal-akalan nyasar. Kurang lebih pembicaraannya mirip ini:

Tut...tut...tut... "Halo dengan PT Keras Tegang Sekali."

"Halo, tolong dong dengan pacarku Richard," bunyi cewek mendayu-dayu dan mengemaskan di ujung telepon. Padahal ini yaitu agresi analis cewek dalam memproses pemohon kartu kredit atas nama Richard yang bekerja di PT Keras Tegang Sekali.

Nah, kalau andaikata yang angkat telepon itu yaitu seorang karyawan kantoran yang terbius dengan desahan dan bunyi seksi si analis, kemudian ia menjawab, "Oh Richard sedang keluar, ini dengan Agus sayang..."

Gubrakkkk! Kira-kira bagaimana evaluasi si analis terhadap kantor mirip ini? Masa salah sambung, telepon nyasar juga diladeni? Kantor macam apa ini? Status kantor ini sudah masuk warning yang kemungkinan 70% kartu kredit tidak akan disetujui. Kebanyakan orang yang mencoba menjebol gawang analis dengan menyewa kantor sementara untuk membikin kartu kredit sering gagal di sini. Analis kini sudah sangat pandai dan dengan banyak sekali trik dan seni administrasi bisa mengakali dan menyiasati nasabah bahkan termasuk jaringan berandal kartu kredit itu sendiri. Banyak yang bisa ditulis soal ulah analis kartu kredit dan akan kita bahas lagi di lain waktu.

Pengalaman menciptakan semua orang mampu! Bagaimana berdasarkan Anda? Makara pastikan Anda selalu siap sedia baik di rumah atau kantor untuk mendapatkan panggilan telepon. Jangan hingga salah ngomong atau yang tidak penting jangan diladeni. Itu niscaya kerjaan analis yang cerdik. Kalau soal sambungan lewat ponsel gampang kita siasati toh nomor teleponnya muncul kok.

Sponsored links Strategi Analis Kartu Kredit:
  

Sumber http://www.mafiakartukredit.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel